Kitadapat mengambil kesimpulan dari sini. Kesimpulannya adalah Allah tidak menciptakan kalian untuk benda-benda ini. Alasannya adalah, jika kalian diciptakan untuk mereka, maka tanpa kalian, mereka semua tidak akan bisa berfungsi dengan benar. Itulah mengapa ketika kalian belum ada, semua ciptaan Allah ini bekerja baik-baik saja.
Diamenciptakan kita menurut gambarNnya untuk menyembahNya. Menurut Alkitab, Allah membuat kita untuk selalu selama-lamanya berhubungan dengan Dia. Ketika Allah berbicara kepada Musa di semak berapi 1500 tahun sebelum Kristus, Dia menegaskan kembali bahwa Dia adalah Allah yang Esa. Allah mengatakan kepada Musa namaNya adalah Yahweh, (AKU).
U61T. Ilustrasi mengapa Allah menciptakan manusia di dunia. Foto PexelsManusia merupakan makhluk ciptaan Allah SWT yang paling sempurna. Berbeda dengan makhluk lainnya, manusia memiliki fisik yang indah dan dibekali ilmu, akal, serta kemauan. Lantas, apa sebenarnya tujuan Allah menciptakan manusia?Mengutip buku Agama Manusia & Tuhan dalam Perspektif Al-Quran terbitan Deepublish, Allah SWT tidak pernah menciptakan sesuatu tanpa ada manfaatnya. Segala yang diciptakan tidak ada yang sia-sia, termasuk manusia. Dalam surat Al-Anbiya ayat 16, Allah berfirmanوَمَا خَلَقْنَا السَّمَاۤءَ وَالْاَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا لٰعِبِيْنَArtinya “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan segala apa yang ada di antara keduanya dengan main-main.” QS. Al-Anbiya16Untuk mengetahui apa saja alasan mengapa Allah menciptakan manusia di dunia, simak penjelasan lengkapnya dalam ulasan berikut Mengapa Allah Menciptakan Manusia Menurut Al-QuranIlustrasi alasan mengapa Allah menciptakan manusia menurut Al-Quran. Foto PexelsDihimpun dari Jurnal Ta’dib Tujuan Penciptaan Manusia dan Nilai Edukasinya karya Inong Satriadi, alasan mengapa Alah menciptakan manusia sebenarnya sudah banyak dijelaskan dalam ayat-ayat Al-Quran. Berikut adalah beberapa alasan yang Untuk beribadah kepada-NyaAlasan paling utama mengapa Allah menciptakan manusia adalah agar mereka beribadah dan bertakwa kepada-Nya. Hal ini dapat dikatakan sebagai hak Allah yang harus dipenuhi oleh manusia. Dalil terkait alasan penciptaan manusia untuk beribadah tercantum dalam beberapa ayat Al-Quran, salah satunya adalah sebagai خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِArtinya “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” QS. Az-Zariyat562. Untuk menjadi khalifah di muka bumiSelain untuk beribadah, Allah juga menciptakan manusia dengan tujuan menjadikannya khalifah atau pengurus bumi. Dengan kekuatan akal dimiliki, manusia diharapkan mampu mengatur dan mengendalikan alam secara umum, baik di darat, laut, maupun udara, serta sumber daya dan makhluk hidup lain yang ada di muka bumi. Penjelasan terkait alasan ini terdapat dalam Al-Quran surat Al-Anam ayat 165 yang berbunyi sebagai الَّذِيْ جَعَلَكُمْ خَلٰۤىِٕفَ الْاَرْضِ وَرَفَعَ بَعْضَكُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجٰتٍ لِّيَبْلُوَكُمْ فِيْ مَآ اٰتٰىكُمْۗ اِنَّ رَبَّكَ سَرِيْعُ الْعِقَابِۖ وَاِنَّهٗ لَغَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ ࣖArtinya “Dan Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di bumi dan Dia mengangkat derajat sebagian kamu di atas yang lain, untuk mengujimu atas karunia yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu sangat cepat memberi hukuman dan sungguh, Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang.” QS. Al-Anam165 mengemban amanahAlasan lain mengapa Allah menciptakan manusia adalah untuk mengemban amanah di dunia. Amanah yang dimaksud dalam hal ini dapat diumpamakan sebagai ujian dan tanggung jawab selama menjadi khalifah di muka bumi sebagaimana termaktub dalam ayat عَرَضْنَا الْاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ وَالْجِبَالِ فَاَبَيْنَ اَنْ يَّحْمِلْنَهَا وَاَشْفَقْنَ مِنْهَا وَحَمَلَهَا الْاِنْسَانُۗ اِنَّهٗ كَانَ ظَلُوْمًا جَهُوْلًاۙArtinya “Sesungguhnya Kami telah menawarkan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung; tetapi semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir tidak akan melaksanakannya berat, lalu dipikullah amanat itu oleh manusia. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat bodoh.” QS. Al-Ahzab724. Agar mereka mengetahui kekuasaan-NyaAlasan lain mengapa manusia diciptakan oleh Allah adalah agar mereka mengetahui kekuasaan-Nya. Allah SWT ingin menunjukkan bahwa seluruh alam semesta, termasuk bumi, tata surya, dan seisinya terbentuk atas kehendak-Nya. Hal ini dijelaskan lebih lanjut dalam Al-Quran surat at-Thalaq ayat 12 yang berbunyi sebagai berikutاَللّٰهُ الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ وَّمِنَ الْاَرْضِ مِثْلَهُنَّۗ يَتَنَزَّلُ الْاَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوْٓا اَنَّ اللّٰهَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ەۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ قَدْ اَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا ࣖArtinya “Allah yang menciptakan tujuh langit dan dari penciptaan bumi juga serupa. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwa Allah Mahakuasa atas segala sesuatu, dan ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” QS. At-Thalaq12Apa kesempurnaan yang dimiliki manusia dibanding makhluk lain?Apa tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi?Apa surat yang menjelaskan tujuan manusia diciptakan?
Kenapa Tuhan tidak memaksa umat manusia untuk masuk dalam satu agama saja? Kenapa banyak agama-agama di dunia padahal Tuhan hanya Satu? Orang-orang ateis meragukan keberadaan Tuhan karena menurut mereka seharusnya agama hanya ada satu sebagai bukti adanya Tuhan Yang Esa. Banyaknya agama dan segala perbedaannya dalam hal furu/cabang tidak dapat menjadi dalil bahwa Sosok yang menciptakan agama itu tidak ada. Agama dan hukumnya menjadi semacam resep’ bagi manusia. Sebagaimana seorang dokter memberikan resep obat yang berbeda bagi setiap jenis penyakit demikian pula agama adalah resep obat rohani yang berbeda tergantung pada jenis penyakit rohani yang meraja-lela pada masa agama tersebut muncul. Artinya agama muncul sesuai dengan kebutuhan umat saat itu. Karena kebutuhan akan ajaran agama berbeda-beda di setiap masa dan lokasinya oleh karena itulah agama pun berbeda. Namun ingat! Perbedaan itu hanya terdapat dalam hal cabang agama furu’ sedangkan esensi dan prinsip agama-agama samawi itu sama yakni mengimani Tuhan Yang Esa. Saat Bani Israil jatuh lama dalam perbudakan yang membuat nyali mereka benar-benar jatuh dan menjadi penakut maka syariat Taurat yang terkesan benar-benar mengistimewakan Bani Israil atas bangsa lainnya itu cocok saat itu. Hukum Taurat terkesan keras karena menekankan pembalasan bila dilihat dari kacamata dunia modern tapi bila kita lihat masa saat Taurat muncul barulah kita menyadari bahwa Taurat sangat pas saat itu bagi kaum yang perlu digebrak rasa keberaniannya. Contohnya hukum berikut ini “…nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki, lecur ganti lecur, luka ganti luka, bengkak ganti bengkak.” Keluaran 2123-25 Hukum Taurat tersebut dikutip Al-Quran “Dan Kami telah menetapkan hukum bagi mereka di dalam Taurat bahwa, jiwa dibalas denganjiwa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan untuk luka ada balasan yang setimpal.’ ” QS. Al-Maidah 46 Hukum Taurat yang keras lama-kelamaan membuat diri Bani Israil benar-benar memiliki watak yang keras dan arogan. Mereka begitu angkuh karena benar-benar merasa diistimewakan Tuhan dalam hukum Taurat. Mereka bangga karena disebut sebagai anak-anak Allah. “Beginilah firman Tuhan Israel ialah anak-Ku, anak-Ku yang sulung” Keluaran 422 Tiga belas abad kemudian saat jiwa dan watak yang keras meraja lela maka diutuslah Yesus as Isa Al-Masih yang menekankan sikap yang lembut, melayani orang lain, tidak melawan, kasih sayang dan suka memaafkan. Injil yang beliau bawa sangat pas saat itu mengingat jaman yang memang tengah membutuhkannya. Contohnya sabda Yesus berikut ini, “Kamu telah mendengar firman Mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Tetapi aku berkata kepadamu Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.” Injil Matius 538-39 Demikian juga hikmah yang sama berlaku pada agama Hindu, Buddha, Zoroaster, Tao, Kong Hu Cu, Shinto dan lain sebagainya. Saat berbagai keperluan dan sarana mulai bermunculan sehingga membuat hubungan internasional terjadi. Negara-negara dari berbagai pelosok dunia mulai terhubung dan menjalin kerjasama yang jauh lebih berkembang dari sebelumnya. Saat itulah dibutuhkan suatu resep rohani yang dapat diterima oleh segala kalangan dan bangsa. Resep yang pas bagi berbagai jenis penyakit dan pas diterapkan selama-lamanya. Maka muncullah Islam dan Al-Quran sebagai hukum syariat terakhir dan pas untuk selamanya. Adapun agama-agama sebelumnya pas untuk masa dan kaum tertentu saja. Pendek kata perbedaan dan banyaknya agama tidaklah dapat menjadi dalil bahwa agama-agama itu tidak bersumber dari Satu Mata Air. Apalagi menjadi dalil bahwa Sumber Mata Air itu tidak ada. Bila kita perhatikan dengan seksama, ushul atau prinsip agama-agama itu sama yakni mengimani Tuhan Yang Esa. Dewa-dewi atau oknum tuhan lainnya yang lebih rendah dari Sosok Tuhan Yang Tunggal muncul belakangan dan merupakan hasil pemikiran para ulama/tokoh agama setelah kepergian Nabi atau pendiri agama tersebut. Sehingga kita tidak bisa mengingkari keberadaan Tuhan karena adanya perbedaan prinsip tersebut. Ingat! Perbedaan tersebut muncul jauh setelah kepergian atau kewafatan utusan Tuhan yang mendirikan agama. Adapun perbedaan dalam hal furu/cabang agama seperti cara ibadah, cara ritual atau upacara menikah dan lain-lain adalah wajar karena menyesuaikan lokasi dan masa saat agama tersebut muncul. Berkenaan dengan kenapa Tuhan tidak memaksa umat untuk masuk dalam satu agama saja sehingga nantinya agama hanya satu, Hazrat Mirza Basyirudin Mahmud Ahmad ra bersabda, “Orang-orang ateis keberatan bahwa Seharusnya Tuhan menjadikan semua orang itu pengikut satu agama saja. Sebagai jawabannya, Allah Ta’ala sendirilah yang menjawabnya yakni Dan seandainya Allah menghendaki niscaya Dia akan menjadikan kamu satu umat, akan tetapi Dia hendak menguji kamu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. yakni Jika Kami ingin, Kami dapat memaksa semua orang masuk dalam satu agama. Tapi jika Kami melakukan hal itu maka seorang pun tidak akan memperoleh pahala. Tujuan dari penciptaan manusia pun tidak akan bisa dipenuhi. Tujuan Itu baru dapat dipenuhi bila manusia itu bebas/merdeka. Didalam dirinya ada kemampuan untuk menerima atau menolak.’ Maka karena memaksa semua orang masuk dalam satu agama benar-benar membuat tujuan penciptaan manusia itu sia-sia, oleh karena itulah Tuhan tidak melakukannya.” Anwarul Ulum, jilid 6, hlm. 317. Alasan lain kenapa agama tidak satu saja adalah Tuhan memberikan kebebasan sehingga manusia memiliki hak untuk bebas memilih. Manusia diciptakan untuk merdeka dan tidak dibelenggu kaidah yang sama. Dengan demikian pahala pun dapat kita raih bila memilih hal yang benar sehingga kita bisa berlomba-lomba dalam kebaikan. Berbeda dengan malaikat atau setan yang tak memiliki kebebasan untuk memilih hal baik dan buruk. Fitrah malaikat adalah patuh pada-Nya sedangkan fitrah setan adalah membangkang. Bila kita dipaksa tunduk dalam satu agama maka apa gunanya manusia diciptakan ? Ia tidak bisa lebih baik dari malaikat dan setan yang sama-sama tidak memiliki kebebasan. Justru karena memiliki kemerdekaan untuk memilih, manusia menjadi begitu berbeda, unik, istimewa dan merupakan sebaik-baik makhluk. Allah Ta’ala sendiri berfirman “Tidak ada paksaan dalam memilih Agama” QS. Al-Baqarah257 Bila Tuhan saja demikian, apalagi kita. Oleh karena itu kita sama sekali tidak mempunyai hak untuk memaksa orang lain meyakini iman yang kita akui. Adapun seorang ateis tidak memiliki hak untuk keberatan kepada Tuhan hanya karena Dia tidak memaksa makhluk-Nya untuk ibadah memalui satu agama sebagai bukti keberadaan-Nya. Kenapa agama dari Tuhan tidak perlu memaksa orang untuk beriman? Perhatikan jawaban indah berikut ini, “Kebenaran yang pasti dan hakiki sama sekali tidak membutuhkan suatu paksaan untuk membuat orang menerimanya. Bahkan pemaksaan adalah dalil yang membuktikan bahwa dalil-dalil ruhani itu lemah.” Hazrat Masih Mau’ud as dalam Majmu’ah Isytiharat, jilid 1, hlm. 459-460 catatan kaki Jawaban di atas sangat tepat sekali. Agama yang benar tidak memerlukan pemaksaan untuk dapat diterima. Bahkan pemaksaan adalah bukti bahwa agama itu tidak memiliki dalil rohani yang mempesona orang untuk meyakininya. Alhasil itulah kenapa agama bisa berbeda dan tidak hanya satu saja. Hikmahnya begitu agung dan logis. Perbedaan ini sama sekali tidak menjadi dalil bahwa Tuhan Sang Pencipta agama itu tidak ada. Adapun agama yang benar tidak membutuhkan pemaksaan untuk diterima. Tuhan sendiri tidak mau memaksa umat-Nya dan Dia sepenuhnya memberikan kebebasan kepada umat-Nya untuk memilih agama yang akan ia yakini. Kenapa? Karena manusia diciptakan untuk merdeka bukan untuk menjadi budak belaka. Oleh Ammar Ahmad Sumber Gambar
TIDAKLAH Allah menciptakan segala sesuatunya itu sia-sia melainkan pasti ada hikmahnya. Termasuk dalam penciptaan setan. Banyak di antara kita yang berpikir, mengapa Allah harus menciptakan setan? Ternyata inilah alasan di balik penciptaan setan. 1 Tidak Ada Ciptaan Allah yang Buruk Tidak ada satu pun ciptaan Allah di dunia ini yang buruk. Termasuk setan. Setan Pada awalnya setan adalah ciptaan Allah yang indah sama seperti ciptaan lainnya. Ia rajin beribadah selama ribuan tahun, akan tetapi setelah terciptanya Adam, ia tampak sombong dan berpaling. Karena itulah ia pun menjadi makhluk terkutuk karena perbuatannya bukan asal penciptaannya. Sesuai dengan sabda Imam Ali As “Setan selama enam ribu tahun telah beribadah kepada Allah Swt dan tidak diketahui apakah dengan hitungan tahun dunia ataukah tahun akhirat sehari akhirat sama dengan seribu tahun dunia”. 2 Allah Menciptakan Jin dan Manusia untuk Beribadah Penciptaan manusia dan jin bertujuan untuk selalu beribadah dan taat kepada Allah Ta’ala. Ini sesuai dengan firman Allah, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku,” Adz-Dzariyat 56. Dalam proses melaksanakan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah, di saat itulah setan beraksi untuk menggodanya. Manusia dan seluruh makhluk yang diberi kemampuan untuk taat dan kemampuan untuk berbuat maksiat terhadap Allah SWT. Di sinilah setan dan iblis mulai beraksi dengan mengajak manusia mengerjakan suatu hal yan dilarang agama. 3 Setan Diberi Kemampuan Mengajak Alasan ketiga di balik penciptaan setan adalah untuk mengajak manusia berbuat kemaksiatan. Setelah setan melanggar perintah Allah karena rasa irinya kepada Nabi Adam. Maka Allah memberinya kemampuan untuk mengajak manusia bukan memaksanya. Mereka yang tertipu dengan rayuan setan, maka akan ikut bersamanya. Akan tetapi, Allah telah menurunkan para nabi untuk memberikan fitrah kepada manusia agar mencari kebenaran dan memberi akal sehat untuk ingat bahwa setan adalah musuh manusia. Adanya setan sebagai penggoda merupakan keniscayaan yang diakibatkan oleh kehendak Allah SWT dalam menguji manusia. Sekarang tergantung kepada individunya itu sendiri, mau ikut ajaran Nabi dan Rasul atau malah justru terjerumus dengan bujuk rayu setan. Dengan adanya setan tersebut, maka manusia akan lebih berjuang dalam menghadapi musuh Allah dan musuh manusia tersebut. Sehingga ia akan meraih kedudukan yang lebih tinggi di sisi Allah SWT. Dengan adanya setan, maka akan membuat manusia semakin bergantung kepada Allah dengan memanjatkan permohonan perlindungan kepada-Nya sehingga akan memperoleh pahala dari Allah. Keberadaan setan akan membuat manusia yang beriman menjadi takut untuk berbuat dosa dan mendapat murka dari Allah. []